Menurut dia, kedatangan ratusan pelari juga membuat aktivitas ekonomi warga di sekitar lokasi ikut bergerak.

Keterbatasan akomodasi di kawasan Kayuwangi, misalnya, membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay untuk menampung peserta.

"Tentunya dengan jumlah peserta ini yang stay di sekitaran warga ini lumayan banyak. Karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak," katanya.

Belanja peserta selama mengikuti event juga turut mengalir ke berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, konsumsi hingga aktivitas wisata.

Ia memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta selama berada di even tersebut mencapai sekitar Rp5 juta, termasuk biaya pendaftaran.

Dengan sekitar 900 peserta, potensi perputaran uang selama GTR Ultra 2026 pun diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar.