Destry juga mengungkapkan bahwa sejumlah investor asing masih memandang Indonesia secara positif karena potensi ekonominya yang besar. Salah satunya adalah pimpinan global sebuah bank asing besar yang menyayangkan pengumuman MSCI.
Investor tersebut, menurut dia, menilai pasar Amerika Serikat (AS) memiliki risiko tersendiri karena kapitalisasi pasar sahamnya telah mencapai sekitar 2,4 kali produk domestik bruto (PDB), dengan dominasi sektor teknologi. Sementara itu, sejumlah negara Eropa menghadapi persoalan rasio utang yang tinggi dan defisit anggaran yang lebar.
Kondisi tersebut membuat investor asing masih memandang Asia, khususnya Indonesia, sebagai tujuan investasi yang menarik.
Oleh sebab itu, ujar Destry, langkah cepat OJK dalam merespons isu MSCI serta koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.