NADIKABAR.COM — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa proses hilirisasi kakao harus dimulai dari desa untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan.
"Keterbatasan fasilitas pengering selama ini membuat petani hanya dapat menjual kakao dengan harga tinggi pada musim kemarau," ujar Rahmat Mirzani Djausal berdasarkan keterangannya di Bandarlampung, Jumat.
Ia mengatakan Provinsi Lampung telah menyiapkan strategi ke depan dengan mendesain struktur ekonomi agar tumbuh inklusif, meningkatkan kemakmuran dan mengentaskan kemiskinan yang dilakukan melalui hilirisasi berbagai komoditas yang ada di desa agar memiliki nilai tambah.
"Solar dryer yang diserahkan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pengeringan kakao di tingkat petani. Teknologi tersebut sederhana, tetapi dapat membuka kesempatan bagi petani untuk menghasilkan kakao kering secara lebih konsisten sepanjang tahun," katanya.
Dia mengatakan selama ini petani menghadapi persoalan ketika panen berlangsung pada musim hujan. Kakao yang belum kering harus segera dijual sehingga petani menerima harga lebih rendah karena tidak memiliki fasilitas pengering yang memadai.
"Harga kakao basah dalam kondisi tertentu berada di kisaran Rp20.000-Rp30.000 per kilogram. Setelah dikeringkan, harganya dapat meningkat menjadi sekitar Rp70.000-Rp80.000 per kilogram, sehingga proses pengeringan menjadi titik penting dalam meningkatkan pendapatan petani," ucap dia.
Pemerintah daerah pun mendorong agar nilai tambah komoditas tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Dari total komoditas Lampung yang bernilai sekitar Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru sekitar Rp40 triliun yang di hilirisasi atau tidak lebih dari 30 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat industri pengolahan berbasis komoditas lokal. Sebab selama ini sebagian besar nilai tambah dinikmati industri berskala besar, sementara bahan baku berasal dari desa-desa sentra produksi.
Ia berharap Pekon Ampai tidak hanya menjadi tempat pengeringan kakao, tetapi juga dapat menjadi pusat pengembangan dan produksi solar dryer (alat pengering tenaga surya). Alat tersebut diharapkan dapat ditiru, dikembangkan, kemudian didistribusikan ke sentra-sentra kakao di sepanjang pesisir Lampung.
"Yang saya harapkan nanti di Pekon Ampai bukan hanya bisa suplai, bukan hanya bisa mengeringkan, tapi bisa mencontoh, membuat pengering seperti ini, dan mendistribusikan, menjual pengering-pengering solar dryer ini di sepanjang pesisir Lampung," tambahnya.
Sebab potensi kakao di wilayah tersebut cukup besar, dan produksi kakao Pesawaran termasuk yang terbesar di Indonesia dan menjadi yang tertinggi di Lampung, khususnya di wilayah pesisir.
Tanggapan tambahan dikatakan oleh Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Lampung Eti Eliati.
"Pesawaran memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000 hektare dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun," ujar Eti Eliati.
Ia melanjutkan dengan adanya potensi tersebut OJK mendorong adanya pengembangan kakao melalui ekosistem closed loop yang menghubungkan sektor hulu dan hilir.
"Skema tersebut mencakup akses pembiayaan petani, mitigasi risiko oleh lembaga penjamin, kepastian pasar dan harga melalui offtaker serta industri pengolahan, hingga pendampingan pemerintah daerah dan akademisi," tambahnya.
Diketahui pula selain bantuan solar dryer, penguatan ekonomi masyarakat dilakukan melalui pengembangan UMKM berbasis kakao agar semakin banyak pelaku usaha lokal mampu meningkatkan skala bisnisnya.
Dan PNM juga akan merealisasikan pembiayaan sebesar Rp318 juta kepada 50 debitur pelaku usaha tani kakao. Pembiayaan itu diharapkan meningkatkan volume usaha sekaligus pendapatan petani.
Dari sisi pembiayaan ultra mikro, PNM telah memiliki sekitar 490.000 nasabah di Lampung. Hingga September 2026, outstanding pembiayaan mencapai sekitar Rp2 triliun, sedangkan penyaluran sepanjang 2026 telah mencapai Rp2,04 triliun.
Khusus di Pesawaran, jumlah nasabah PNM Mekaar tercatat 29.383 orang dengan outstanding sekitar Rp125,86 miliar. PNM juga memiliki 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940 kelompok nasabah di wilayah tersebut.