NADIKABAR.COM — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa adanya skema pinjaman tanpa bunga menjadi upaya mendorong petani di wilayahnya dapat memiliki alat mesin pertanian (alsintan) dalam mengusahakan lahan pertaniannya.
Gubernur menjelaskan pinjaman tanpa bunga atau pinjaman nol persen tersebut merupakan program di luar program kredit usaha rakyat (KUR) dan merupakan program Pemerintah Provinsi Lampung.
"Skema ini tidak menggunakan APBD tapi kita bekerja sama dengan Bank Lampung dan kita subsidi bunga supaya makin banyak petani yang menggunakan alat mesin pertanian sehingga produktivitas meningkat," ucap Rahmat Mirzani Djusal di Bandarlampung, Selasa.
Ia mengatakan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian pemerintah daerah mendorong agar petani di wilayahnya dapat menggunakan alat mesin pertanian dalam pengolahan lahan pertanian.
"Pemerintah segera menghadirkan skema pinjaman tanpa bunga agar petani bisa memiliki alat mesin pertanian. Karena rasio lahan pertanian dengan kepemilikan alat mesin pertanian masih sangat kecil," katanya.
Menurut dia, selain untuk pembiayaan alat mesin pertanian adanya skema pinjaman tanpa bunga tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk membuat pabrik pakan ternak mini, rice miling unit mini, roaster kopi mini di desa-desa.
"Intinya kita ingin menumbuhkan desa, agar desa tidak hanya menjual komoditas dalam bentuk mentah tapi dijual dalam bentuk produk turunan atau setengah jadi. Jadi dengan pinjaman tanpa bunga ini bisa membantu ekonomi desa bertumbuh," tambahnya.
Gubernur mengatakan, pertanian menjadi kekuatan utama perekonomian Lampung dimana dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare, tercatat ada sekitar 1,7 juta hektare yang dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan, sementara sekitar 1 juta hektare merupakan kawasan hutan.
Gubernur menyebut, sekitar 1,7 juta masyarakat Lampung bekerja sebagai petani dan pekebun sehingga kondisi tersebut menjadikan sektor pertanian sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.
Gubernur Mirza mengungkapkan, Lampung memiliki berbagai komoditas unggulan pangan, antara lain padi, jagung, ubi kayu, nanas, dan pisang. Produksi padi Lampung mencapai sekitar 3,2 juta ton, jagung sekitar 1,7 juta ton, sementara ubi kayu menempatkan Lampung sebagai daerah penghasil terbesar di Indonesia.
Namun besaran produksi pangan itu belum secara otomatis menjamin kesejahteraan petani, di mana selama ini, sebagian besar hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah dan keuntungan lebih banyak dinikmati pada rantai pasok setelah petani.
Oleh karena itu, Gubernur mendorong petani untuk mengolah bahan pertanian itu menjadi produk yang mempunyai nilai tambah lebih baik dengan adanya pinjaman tanpa bunga untuk alat pengolahan hasil pertanian.