NADIKABAR.COM — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mendorong komoditas tuna menjadi penggerak industri agromaritim daerah seiring semakin terbukanya akses penjualan produk perikanan lokal ke pasar internasional.

"Potensi kelautan dan perikanan memberikan manfaat optimal apabila ditopang rantai usaha yang utuh mulai dari penyediaan bahan baku, ketelusuran, pengolahan, pengendalian mutu hingga pemasaran ke pasar internasional," ujarnya dalam keterangan di Mataram, Selasa.

Nusa Tenggara Barat secara geografis merupakan provinsi kepulauan yang terdiri dari 403 pulau dan diapit dua Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) nasional, yakni WPP 573 dan WPP 713.

Di bagian selatan, NTB berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang masuk ke dalam zona WPP 573. Sedangkan, perairan bagian utara NTB masuk ke dalam zona WPP 713.

Pemerintah NTB menyatakan ekspor produk olahan tuna tujuan Amerika Serikat melalui PT High Point Fisheries (HPF) di Labuhan Lombok, Kabupaten Lombok Timur, menjadi salah satu contoh aktivitas industri agromaritim di wilayah NTB.

Dari Januari sampai 21 September 2026, perusahaan itu telah merealisasikan 18 kontainer ekspor dengan volume produksi lebih dari 355 ton dan nilai produksi melampaui Rp43,4 miliar.

Produk yang dipasarkan ke Amerika Serikat berupa fillet tuna sirip kuning atau yellowfin tuna dalam berbagai bentuk, antara lain saku, cube hand cut, ground meat, dan loin.

Iqbal menilai pengembangan industri pengolahan tuna sejalan dengan arah pembangunan NTB melalui hilirisasi komoditas unggulan, termasuk sektor kelautan dan perikanan.

Menurut dia, hilirisasi komoditas unggulan dapat membuat produk daerah tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi memiliki nilai tambah sebelum masuk pasar global.

"Ekspor tuna dari Lombok Timur tidak sekadar mencatat pengiriman produk ke luar negeri. Di dalamnya terdapat proses membangun nilai tambah, standar mutu, lapangan kerja, rantai pasok daerah dan keberlanjutan sumber daya laut," pungkas Iqbal.