Nama 'Pak Berryh' sendiri diambil dari nama almarhum ayahnya, sosok yang pertama kali memperkenalkan kudapan ini kepada warga Bandung sejak tahun 1980. Dulu, sang ayah yang akrab disapa Mang Berryh sempat menimba pengalaman berjualan kuliner Hakka di kawasan Pasar Baru sebelum akhirnya membuka kedai sendiri di Jalan Sekeloa, Kopo.

"Asalanya dari almarhum bapak, masih warga Bandung juga. Cuman pengalaman beliau pernah berjualan makanan hakka di daerah Pasar Baru Bandung," ungkap Taufik.

Kini, estafet rasa itu terbagi dua. Taufik mengelola kedai di Sukamenak secara mandiri, sementara adiknya meneruskan jejak sang ayah di lokasi asli di Jalan Sekeloa. "Saya sudah pisah jualan sendiri, kalau yang di Sekeloa itu sama adik," tuturnya.

Proses pembuatannya pun tergolong unik dan membutuhkan ketelatenan. Taufik memulainya dengan memanaskan centong stainless berukuran besar dalam minyak mendidih. Setelah suhu dirasa pas, adonan tepung masuk, disusul irisan kucai, potongan ayam yang telah dibumbui, serta jamur, lalu ditutup kembali dengan lapisan tepung. Centong itu kemudian dibenamkan ke dalam minyak hingga bapiah terlepas dengan sendirinya.

"Bahan baku ya ini paling kucai, daging, terigu, jamur, dicampur," ucap Taufik sambil meniriskan bapiah yang sudah matang sempurna.