Dengan anggaran terjangkau Rp 5.000 per porsi, menu yang disajikan untuk 52 murid aktif di sekolah itu terdiri dari nasi kuning, mi, sambal, hingga sepotong ikan. Pembuatan makanan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik warung lokal di wilayah Kilometer 5 atau berjarak 3 kilometer dari sekolah.

"Akses jalan termasuk sulit karena harus menyeberangi tiga sungai. Tapi karena pemilik warung warga lokal, beliau sudah terbiasa," ungkapnya.

Selain akses jalan, ketersediaan bahan baku di wilayah terpencil juga membuat program ini belum bisa digelar setiap hari. Pemilik warung harus menunggu hari pasar setiap Selasa atau pergi ke pusat kecamatan untuk berbelanja stok pangan.

Meski belum bisa berjalan setiap hari dan mengandalkan donasi followers media sosialnya di Instagram dan TikTok milik, program ini membawa perubahan signifikan bagi dinamika belajar anak-anak. Angka kehadiran siswa melonjak drastis, dan tidak ada lagi keluhan lapar di tengah jam pelajaran.