Penulis menjelaskan bahwa adanya fosil hiu di wilayah yang sama, menunjukkan adanya laut tropis yang kaya nutrisi. Hal ini juga mendukung rantai makanan dari ikan paling kecil hingga predator besar.

Tim penelitian tersebut memutuskan untuk menyelami lebih dalam lautan Mesir yang telah lama hilang dan mencari spesies hiu tambahan.

Berdasarkan Britannica, iklim pada masa periode Kapur jauh lebih hangat daripada saat ini, mungkin yang terhangat di seluruh dunia pada zaman Phanerozoic Eon. Begitu pula permukaan lautnya yang tinggi akibat efek rumah kaca yang kuat.

Gurun Barat Mesir dulunya terletak di bawah laut tropis yang hangat sekitar 145 hingga 66 juta tahun yang lalu. Di dataran tinggi Abu-Tartur inilah yang menyimpan cadangan salah satu fosfat terbesar di Mesir.

Fosfat yang ditemukan di sana merupakan hasil dari kondisi laut purba selama masa Cretaceous akhir, ketika sedimen kaya organik terakumulasi dan berubah menjadi lapisan fosforit tebal seiring waktu.

Adapun, wilayah laut pada masa ini dibagi menjadi dua paleobiogeografis yaitu Tethyan dan Boreal. Pembagian ini didasarkan pada struktur yang mirip seperti terumbu karang dan dihuni oleh sejenis kerang-kerangan besar, bivalvia.

Selain hiu, ekosistem laut Tethys pada masa itu penuh dengan predator lain, ammonit contohnya. Ammonit merupakan salah satu spesies yang hidup di wilayah Tethys, memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Ammonit memangsa invertebrata lain yang berenang bebas atau hidup di dasar laut, dan mereka juga menjadi mangsa bagi banyak hewan yang lebih besar, salah satunya adalah reptil laut bernama mosasaurus. Hiu dan pari juga merupakan salah dua dari predator yang hidup di Tethys.

Menjelang masa akhir Cretaceous, banyak hewan yang disebut sebagai unsur penting Mesozoikum menjadi punah. Dari flora dan fauna planktonik, hanya sekitar 13 persen yang selamat dari kepunahan. Hal ini disebut memiliki keterkaitan dengan punahnya dinosaurus di daratan.