Gus Ipul menjelaskan hasil asesmen menjadi dasar penyusunan rencana perkembangan individual siswa. Proses pendidikan dan rehabilitasi berjalan beriringan melalui pembelajaran akademik yang dipandu guru serta pengasuhan dan rehabilitasi yang melibatkan wali asuh, wali asrama, dan Sentra Kemensos.

Siswa dengan tingkat kerentanan ringan hingga sedang dapat memperoleh pendampingan di lingkungan sekolah melalui penguatan karakter dan pembiasaan dalam keseharian. Sementara itu, siswa dengan tingkat kerentanan tinggi dapat dirujuk ke Sentra Kemensos untuk mendapatkan penanganan yang membutuhkan keahlian lebih khusus.

"Guru, wali asuh, wali asrama, kepala sekolah, dan sentra harus duduk dalam satu mekanisme case management yang sama. Kalau salah satu roda goyang atau berjalan tanpa koordinasi dengan roda yang lain, yang dirugikan adalah anaknya," tegasnya.

Gus Ipul mengatakan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari kenaikan kelas. Terdapat tiga kompetensi dasar yang ditargetkan, yakni siswa memiliki kemampuan akademik yang kuat, berkarakter yang mencakup disiplin, tangguh dan beretika, serta terampil, termasuk kemampuan berbahasa asing dan cakap teknologi.

Selain itu, kesiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja mulai disiapkan sejak kelas dua SMA. Peminatan disesuaikan dengan arah yang dituju, baik melalui jalur akademik, dunia kerja, maupun kewirausahaan.