Gus Kautsar juga mengatakan, dirinya bukan satu-satunya pihak yang diwawancarai. Sejumlah tokoh lain juga disebut menjalani wawancara serupa dan tidak merasa pernah diberitahu bahwa hasilnya akan dijadikan sebagai buku.
Gus Kautsar menyebut ada dua poin yang disesalkan terkait terbitnya buku "Islam Ala Prabowo. Pertama judul artikel "Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto" dan kedua soal transparansi wawancara.
"Jadi kita itu hanya menyesalkan dua hal. Satu judulnya, yang kedua adalah ketidaktransparansian. Ketika buku ini kemudian benar-benar diterbitkan, kami juga tidak pernah dikasih tahu," tegas Gus Kautsar.
Hingga kini, lanjut Gus Kautsar, dirinya juga belum menerima buku tersebut. Padahal, namanya dicantumkan dalam buku tersebut. "Dan sampai detik ini kita juga nggak dikasih buku," imbuhnya.
Gus Kautsar menilai, secara etika, pihak yang mencantumkan nama seseorang dalam sebuah karya seharusnya terlebih dahulu melakukan konfirmasi. Menurutnya, hal itu penting untuk memastikan izin serta kesesuaian konteks pernyataannya yang digunakan.
"Harusnya kan ketika kami dicantumkan di satu bagian, kita harus dikonfirmasi dulu. Diizinkan atau tidak, itu urusan kemudian. Tapi titik poinnya itu kenapa tidak transparan," jelasnya.
Ia kembali menegaskan bahwa keberatannya bukan sekadar soal dicantumkannya nama dalam buku. Sebab persoalan utamanya adalah dirinya tidak pernah dilibatkan dan diberitahu dalam pembuatan buku tersebut.