"Mereka yang tidak profesional dalam mengelola Sekolah Rakyat (berarti) itulah pendusta agama. Sehingga Anda sekarang mau lompat ke neraka atau ke surga, semua tergantung bagaimana memposisikan niat di Sekolah Rakyat," sambungnya.

Habib Ja'far juga menyampaikan tiga prinsip pendidikan yang perlu diterapkan pendamping, yakni membangun karakter, menciptakan kompetisi positif melalui berbagai kegiatan, serta memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Habib Ja'far menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Menurutnya, perundungan dan pelecehan tidak boleh mendapat toleransi di lingkungan pendidikan.

"Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak pernah memberikan toleransi terhadap bullying, pelecehan, dan terhadap segala hal-hal buruk yang tidak seharusnya ada di sekolah. Itu kuncinya," kata Habib Ja'far.

Pada kesempatan tersebut, Habib Ja'far juga berdialog langsung dengan peserta. Dengan pembawaan santai dan diselingi humor, ia menciptakan suasana hangat dan akrab. Peserta tampak antusias, mulai dari tertawa bersama hingga terharu dan menitikkan air mata saat berbagi cerita.

Pesan tersebut sejalan dengan arahan Wamensos Agus Jabo Priyono yang meminta seluruh pendamping menerapkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui prinsip 'momong, among, dan ngemong'.

"'Momong' itu mengasuh dengan kasih sayang. 'Among' mendidik melalui keteladanan," ujar Agus.

"'Ngemong' membimbing dan mengembangkan potensi anak," sambungnya.

Agus menjelaskan Sekolah Rakyat tidak hanya menyelenggarakan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter dan rehabilitasi sosial. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan sebagaimana diamanatkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025.