Menurut Agus, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang menghadapi berbagai keterbatasan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dapat meninggalkan luka sosial, seperti kurangnya perhatian dan kasih sayang, rasa rendah diri, hingga hilangnya harapan.

Karena itu, pendampingan tidak boleh terbatas pada kegiatan belajar di kelas, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari siswa. Seluruh unsur sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, wali asuh, wali asrama, hingga satuan pengamanan, harus mampu menjadi figur panutan.

"Mereka tidak punya figur karena di rumah, orang tuanya sibuk mempertahankan kehidupan ekonomi dan anak tidak dapat perhatian. Mereka butuh idola di sekolah rakyat, makanya harus hati-hati sekali berperilaku di depan anak di Sekolah Rakyat," kata Agus.

Agus menambahkan setiap unsur sekolah memiliki peran dalam mendukung tumbuh kembang siswa. Guru bertugas mengembangkan pengetahuan sekaligus memberikan keteladanan. Wali asrama membangun disiplin dan kemandirian, sedangkan wali asuh memberikan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang.

Agus menegaskan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari pembentukan karakter dan keterampilan siswa agar mampu hidup mandiri dan berdaya setelah lulus. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat membantu keluarganya keluar dari kemiskinan.

"Sehingga kemiskinan yang diresahkan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto) selama ini, melalui Sekolah Rakyat bisa dientaskan dan kemiskinan ekstrim bisa diselesaikan," kata Agus.

Sebagai informasi, acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos Muhammad Hasan Chabibie; Staf Ahli Menteri sekaligus Pelaksana Tugas Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Plt Pusdiklat) Afrizon Tanjung; Tenaga Ahli (TA) Mensos Fajar Wahyu Hermawan, Hendri Kurniawan, dan Alif Kamal.

Hadir pula Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (Kabiro OSDM) Danu Ardhiarso; Kabiro Perencanaan Cecep Sulaeman; Kabiro Umum Yadi Muchtarl dan Sekretaris Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemensos Ferry Syahminan; serta sekitar 1.000 peserta yang terdiri guru bimbingan konseling, wali asuh, wali asrama, satuan pengamanan dan operator Sekolah Rakyat seluruh Indonesia.