Haedar mencontohkan komoditas seperti sawit yang kerap menjadi polemik, juga mitigasi bencana alam banjir di Sumatera. Menurutnya, yang keliru adalah cara pengelolaannya, bukan komoditasnya. Ia mengajak para ahli mengkaji kelebihan serta kekurangan setiap tanaman sesuai habitatnya.
Haedar menambahkan, negara perlu menentukan sumber daya yang dikelola sekarang dan yang disisakan bagi generasi mendatang. Untuk itu, ia meminta para pakar hutan, laut, hingga udara dikumpulkan untuk mengeluarkan keahliannya.
Isu-isu yang disampaikan oleh Haedar memang beririsan dengan agenda rapat komisi Forkom GB-PTMA yang akan digelar hingga Sabtu besok. Komisi Sosial-Humaniora membahas politik, pemerintahan, dan kebijakan publik, sedangkan Komisi Sains membahas energi, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.
Selain membahas isu strategis kebangsaan, forum ini juga menyoroti peran nyata para akademisi dalam menjawab tantangan internal perguruan tinggi.
Sebanyak 117 dari 162 perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) tercatat belum memiliki guru besar. Kesenjangan tersebut hendak dijawab lewat gagasan 'Muhammadiyah United', yakni jejaring guru besar lintas kampus.
Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda Forum Komunikasi Guru Besar PTMA (Forkom GB-PTMA) 2026, hari ini, yang berlokasi di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory. Ketua Panitia Sidik Jatmika memaparkan hasil temuan dan gagasannya di hadapan lebih dari 100 guru besar yang hadir.
Sidik menyebut sekitar 480 guru besar memiliki homebase di PTMA, tetapi baru 45 kampus yang memilikinya. Sebaran tersebut dinilai belum merata dan menjadi pekerjaan besar bila kualitas para guru besar ingin dilakukan pemerataan.
Sidik menghitung, bila setiap tahun sepuluh kampus terbantu, pemerataan butuh waktu panjang.
"Itu artinya setidaknya butuh 12 tahun untuk memastikan semua kampus memiliki guru besar. Tentu bukan pekerjaan yang mudah," ujar Sidik.