Arti peristiwa di Weda Bay baru terasa bila kita menengok ke belakang. Sebelum larangan ekspor bijih nikel berlaku pada 2020, Indonesia menjual sebagian besar kekayaan nikelnya dalam bentuk tanah mentah. Kementerian ESDM mencatat nilai ekspor nikel dan turunannya pada 2017 hanya 3,3 miliar dolar AS. Pada 2024 angka itu mencapai 33,9 miliar dolar AS, lebih dari sepuluh kali lipat. Lonjakan ini terjadi di negara yang menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia.

Lonjakan itu tidak datang dalam satu langkah. Anak tangga pertama adalah smelter yang mengolah bijih menjadi feronikel dan nickel pig iron untuk industri baja tahan karat. Anak tangga berikutnya adalah produk antara, seperti nikel matte, mixed hydroxide precipitate, nikel sulfat, dan kobalt, yang kini mendominasi surplus perdagangan Maluku Utara.

Setelah itu datang material baterai. Baterai adalah anak tangga terakhir sebelum kendaraan itu sendiri.