Setiap anak tangga mengubah apa yang sebenarnya dijual. Bijih dijual berdasarkan tonase dan kadar, dengan harga yang ditentukan bursa logam di luar negeri. Baterai dijual berdasarkan spesifikasi: kepadatan energi, daya tahan siklus, keamanan, dan kepercayaan produsen kendaraan.

Di anak tangga terakhir, harga produk tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh naik-turunnya komoditas. Teknologi dan reputasi pabrik mulai ikut menentukan. Pergeseran posisi tawar inilah yang menjadi taruhan terbesar hilirisasi.

Proyek separator dan elektrolit, yang disebut Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebagai fasilitas separator pertama di Indonesia, mengisi celah yang sering membuat ekosistem baterai nasional disebut belum lengkap. Kedua komponen itu tidak sebesar smelter, tetapi sel baterai tidak dapat dirakit tanpanya. Rosan menyebut ekosistem yang lengkap, termasuk daur ulang baterai, akan menempatkan Indonesia di dalam rantai pasok global, tidak lagi di pinggirnya.