NADIKABAR.COM — Bunyi sirine di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Kamis, 8 Oktober 2026, menandai sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya hadir dalam dokumen perencanaan. Baterai kendaraan listrik yang diproduksi di jantung kawasan nikel Indonesia berangkat ke pasar ekspor.
Presiden Prabowo Subianto menekan sirine itu. Ia sekaligus meresmikan operasi komersial empat proyek industri dan mencanangkan pembangunan tujuh proyek baru, dengan nilai gabungan 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun.
Angka investasi itu besar, tetapi susunan proyeknya lebih menarik. Empat proyek yang mulai beroperasi komersial adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing.
Tujuh proyek yang dimulai pembangunannya mencakup material baterai berbasis nikel, separator dan elektrolit baterai, aluminium elektrolitik, truk listrik untuk pertambangan dan industri, serta kaca fotovoltaik untuk panel surya. Bila diurutkan, daftar itu membentuk rantai produksi yang nyaris utuh, dari bahan kimia baterai hingga kendaraan yang memakainya.
Arti peristiwa di Weda Bay baru terasa bila kita menengok ke belakang. Sebelum larangan ekspor bijih nikel berlaku pada 2020, Indonesia menjual sebagian besar kekayaan nikelnya dalam bentuk tanah mentah. Kementerian ESDM mencatat nilai ekspor nikel dan turunannya pada 2017 hanya 3,3 miliar dolar AS. Pada 2024 angka itu mencapai 33,9 miliar dolar AS, lebih dari sepuluh kali lipat. Lonjakan ini terjadi di negara yang menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia.
Lonjakan itu tidak datang dalam satu langkah. Anak tangga pertama adalah smelter yang mengolah bijih menjadi feronikel dan nickel pig iron untuk industri baja tahan karat. Anak tangga berikutnya adalah produk antara, seperti nikel matte, mixed hydroxide precipitate, nikel sulfat, dan kobalt, yang kini mendominasi surplus perdagangan Maluku Utara.
Setelah itu datang material baterai. Baterai adalah anak tangga terakhir sebelum kendaraan itu sendiri.
Setiap anak tangga mengubah apa yang sebenarnya dijual. Bijih dijual berdasarkan tonase dan kadar, dengan harga yang ditentukan bursa logam di luar negeri. Baterai dijual berdasarkan spesifikasi: kepadatan energi, daya tahan siklus, keamanan, dan kepercayaan produsen kendaraan.
Di anak tangga terakhir, harga produk tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh naik-turunnya komoditas. Teknologi dan reputasi pabrik mulai ikut menentukan. Pergeseran posisi tawar inilah yang menjadi taruhan terbesar hilirisasi.
Proyek separator dan elektrolit, yang disebut Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebagai fasilitas separator pertama di Indonesia, mengisi celah yang sering membuat ekosistem baterai nasional disebut belum lengkap. Kedua komponen itu tidak sebesar smelter, tetapi sel baterai tidak dapat dirakit tanpanya. Rosan menyebut ekosistem yang lengkap, termasuk daur ulang baterai, akan menempatkan Indonesia di dalam rantai pasok global, tidak lagi di pinggirnya.