Langkah tersebut menghalangi banyak jemaah untuk mencapai masjid, sedangkan sebagian kecil berhasil yang mencapai area tersebut terpaksa salat di depan gerbang masjid. Pembatasan terjadi bersamaan dengan seruan aksi kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim atas situs tersebut (sering disebut kelompok Temple). Tujuannya untuk meningkatkan aksi penerobosan ke kompleks Masjid Al-Aqsa selama Tahun Baru Yahudi.

Otoritas Kegubernuran Yerusalem menyatakan aksi penerobosan ini jadi bagian dai eskalasi berkelanjutan yang menargetkan masjid tersebut selama musim liburan Yahudi disertai dengan peningkatan jumlah perintah yang melarang warga Palestina memasuki situs itu.

Pihak kegubernuran menyatakan telah mendokumentasikan sekitar 850 perintah semacam itu sejak awal tahun. Pada Jumat (11/9/2026), pihak kegubernuran memperingatkan adanya seruan yang meningkat dari kelompok-kelompok Yahudi tertentu untuk memaksakan ritual keagamaan mereka di dalam Masjid Al-Aqsa selama hari raya Yahudi.

Dikatakan, pihak Israel berupaya memaksakan ritual mereka dengan kekerasan di sekitar masjid dan gerbang-gerbangnya, serta memperingatkan adanya upaya menciptakan realitas baru dan melemahkan identitas Islam situs tersebut. Musim hari raya Yahudi dimulai dengan Rosh Hashanah pada 12-13 September dan berlanjut dengan Yom Kippur pada 21 September, diikuti oleh Sukkot dari 26 September hingga 2 Oktober serta Simchat Torah pada 3 Oktober.