Catatan pada 25 November 1994 bahkan mencantumkan tarif layanan couchette sebesar Rp33.000. Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan malam Solo–Jakarta pada periode itu pernah menawarkan pengalaman beristirahat di atas kereta yang berbeda dari konfigurasi tempat duduk reguler. Setelah periode tersebut, rangkaiannya kembali menggunakan layanan bisnis.

“Setiap periode memiliki karakter pelayanan sendiri. Riwayat Fajar dan Senja Utama Solo mencatat fase kereta bisnis, pernah membawa layanan eksekutif dan couchette, hingga berkembang menjadi layanan dengan sarana generasi terbaru,” kata Anne.

Perjalanan panjang kereta ini juga dapat dibaca dari asal sarananya. Jika pada 1978 Senja Utama Solo memulai perjalanan dengan rangkaian Goša buatan Yugoslavia, beberapa dekade kemudian modernisasi membawa kereta buatan dalam negeri ke layanan tersebut.

Pada 2016, layanan eksekutif kembali menjadi bagian dari Fajar dan Senja Utama Solo. Kemudian mulai 21 Mei 2018, kereta ini menggunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA, dengan layanan kelas eksekutif dan ekonomi premium.

Perubahan berikutnya terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 berlaku pada 1 Desember 2019. Pengaturan perjalanan membuat keberangkatan dari Jakarta berlangsung pada pagi hari, sedangkan perjalanan dari Solo dilakukan pada malam hari. Penamaan layanan kemudian menyesuaikan karakter waktunya yaitu Fajar Utama Solo menuju Solo dan Senja Utama Solo menuju Jakarta.

Dengan demikian, kata Fajar dan Senja pada layanan ini memiliki hubungan langsung dengan waktu perjalanan. Dua nama tersebut kemudian menjadi identitas yang mudah dikenali pelanggan pada koridor Jakarta–Surakarta.

Babak modernisasi berikutnya berlangsung pada 31 Januari 2025. Fajar dan Senja Utama Solo mulai menggunakan rangkaian campuran kelas eksekutif dan ekonomi generasi terbaru berbahan baja nirkarat produksi PT INKA Madiun.

Perubahan tersebut membentuk kontras menarik dalam perjalanan hampir lima dekade layanan ini. Pada 1978, pelanggan Senja Utama Solo melakukan perjalanan menggunakan kereta bisnis buatan Yugoslavia. Kini pelanggan menggunakan sarana generasi terbaru yang diproduksi di Indonesia.