Nadhiri menuturkan bahwa kondisi Desa Timbulsloko sejak 2016 sangat memprihatinkan. Air pasang yang tinggi, abrasi, dan rob hampir terjadi setiap hari. Bahkan, ada dukuh di desa tersebut yang mulai tenggelam. Kondisi tersebut memaksa masyarakat Timbulsloko untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan, dan tambak. Penghasilan warga setiap hari ada udang dari tambak, kemudian, setiap empat bulan sekali panen padi, panen cabai, jagung, dan bandeng. Setelah dilanda abrasi, semuanya menjadi hilang.