Penumpang lain, Holly Hennessey, mengungkapkan para penumpang sempat diminta untuk mempertimbangkan pembayaran biaya tambahan bahan bakar akibat lonjakan harga global dan rencana perjalanan mereka pun telah dipangkas secara drastis. Dia menyebut beberapa orang memutuskan untuk turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.
"Kamboja bukanlah tempat yang pernah saya bayangkan akan menjadi lokasi di mana saya harus menghabiskan banyak waktu. Kami semua berada di hotel yang berbeda-beda; ada beberapa rekan sesama penumpang kapal yang menginap di hotel yang sama dengan saya. Saat ini, kami hanya bisa menunggu," ujar Hennessey.
Sebagai informasi, harga untuk hunian permanen di kabin kapal tersebut berkisar antara USD 120.000 hingga USD 440.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar hingga Rp 8 miliar. Kabin-kabin tersebut juga tersedia untuk disewa dengan harga mulai dari USD 3.500 (Rp 63 juta) per bulan.
Tahun lalu, perusahaan tersebut meluncurkan program hunian seumur hidup yang memungkinkan orang untuk menghabiskan masa pensiun mereka di laut. Banyak penumpang yang telah berencana untuk tinggal bersama di luar kapal atau melanjutkan perjalanan dengan cara lain.