Selain persoalan harga, hasil panen juga kerap tidak maksimal akibat kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Kondisi itu membuat biaya dan tenaga yang dikeluarkan petani tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
"Tahun ini saya nggak dapat bantuan bibit kapas, kurang tahu untuk petani lainnya. Yang jelas karena faktor cuaca hasil panen tak sebanding dengan tenaga dan waktu jadi rugi," ujar Kari.
Kondisi itu membuat petani mulai beralih ke tanaman lain. Seperti jagung dan kacang tanah, yang dianggap memiliki prospek harga lebih baik.
Kepala Distan PP Karangasem I Made Sugiartha membenarkan bahwa tahun ini pemerintah daerah tidak mengadakan bantuan bibit kapas untuk petani. Hal tersebut dikarenakan stok bibit yang terbatas saat ini di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas).
Selain itu juga karena adanya keterbatasan anggaran sehingga anggaran lebih diprioritaskan untuk program yang lebih bermanfaat langsung kepada masyarakat. Ia menyebut dalam tiga tahun terakhir bantuan bibit kapas kepada petani mengalami penurunan sehingga jumlah produksinya juga menurun. Selain karena bibit yang terbatas juga karena hanya beberapa kelompok saja yang masih mau menanam.