NADIKABAR.COM — Harga rumput laut pembudi daya di pesisir Pulau Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali, membaik. Namun, di tengah kenaikan harga pasar, hasil panen petani malah menurun.
Penurunan hasil panen karena cuaca panas sehingga menyebabkan kenaikan suhu air laut. Selain itu, lahan untuk menanam rumput laut yang makin menipis juga menjadi penyebab hasil panen petani berkurang.
"Agak menurun panen bulan ini. Dari yang biasanya 500 kilo, sekarang 200 sampai 300 kilo. Memang karena panas ini," kata salah satu pembudi daya rumput laut Nusa Lembongan, Ketut Seneta (70), kepada NadiKabar, Selasa (8/9/2026).
Seneta yang sudah menambak sejak tahun 80-an itu mengatakan harga rumput laut ke pengepul saat ini mencapai Rp 31 ribu per kilogram (kg). Nilai itu lebih tinggi dibandingkan harga normal di kisaran Rp 25 ribu.
"Sekarang harga yang sudah siap ekspor ke pengepul Rp 31 ribu per kilonya, tetapi kondisi cuaca saat ini membuat hasil berkurang," papar Seneta.
Seneta mengungkapkan kini terdapat sekitar 100 pembudi daya rumput laut di Nusa Lembongan. Jumlah pembudi daya terus berkurang karena regenerasi minim. "Anak-anak muda tidak ada yang mau. Anak saya semua di pariwisata," ungkapnya.
Seneta dan petani di Nusa Lembongan menjadi saksi hidup kejayaan budi daya rumput laut di pulau tersebut. Pada 1980-an, Nusa Lembongan pernah menjadi sentra penghasil rumput laut terbesar di Bali.
Namun, seiring waktu, pariwisata berkembang pesat pada sekitar 2010 dan menggerus menyulap tambak-tambak rumput laut menjadi tambatan kapal pesiar yang membawa jutaan wisatawan.