Kelompok-kelompok lobi energi terkemuka menentang rencana tersebut, dan banyak pakar industri berpendapat bahwa larangan itu akan lambat dalam menurunkan harga, atau justru menjadi bumerang dengan mendorong kilang-kilang di AS untuk mengurangi produksi, menaikkan harga, atau bahkan keduanya.
Bagi Eropa, konsekuensi dari solar yang semakin mahal bisa sangat dramatis.
"Kebijakan insentif selama berdekade-dekade, seperti keuntungan pajak, membuat armada kendaraan Eropa jauh lebih didominasi oleh solar dibandingkan wilayah seperti AS," ujar Georg Zachmann, seorang peneliti senior di lembaga pemikir Bruegel yang berbasis di Brussel.
"Akibatnya, Uni Eropa secara struktural mengalami surplus bensin yang kemudian diekspor, tetapi mengalami defisit solar yang harus diimpor," tambah Zachmann, yang mengkhususkan diri dalam kebijakan energi dan iklim.
Di Uni Eropa, sedikit lebih dari 38% mobil penumpang menggunakan bahan bakar solar, dan transportasi darat—termasuk angkutan barang—menyumbang 77% dari total konsumsi solar dan minyak gas, demikian menurut sebuah laporan ringkasan yang diterbitkan oleh Transport & Environment, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di Brussels.
Ketergantungan pada transportasi berbahan bakar solar ini "membuat para pengemudi dan dunia usaha sangat rentan terhadap guncangan harga minyak dan bahan bakar," tulis Juliette Egal, penulis utama laporan tersebut.
Lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut memperkirakan bahwa para pengemudi di Uni Eropa harus membayar €30 (Rp613.500) lebih mahal untuk tangki solar berkapasitas 50 liter sejak awal perang di Iran. Rata-rata seorang sopir truk jarak jauh asal Jerman harus mengeluarkan tambahan biaya sebesar €236 (Rp4,83 juta) per minggu.
Peningkatan biaya bahan bakar untuk transportasi darat Uni Eropa mencapai hingga €270 juta per hari—di mana €203 (Rp4,15 juta) juta darinya berasal dari solar, demikian menurut laporan tersebut. Secara keseluruhan, ekonomi Uni Eropa telah menanggung tambahan biaya sebesar €40 miliar (Rp817,96 triliun) akibat harga solar untuk transportasi darat sejak awal perang.
Dalam jangka pendek, volume pengolahan minyak mentah Rusia adalah variabel tunggal yang bergerak paling cepat, ujar Skip York, seorang peneliti nonresiden di Center for Energy Studies di Rice University, Houston, Texas.
"Setiap gelombang baru serangan Ukraina langsung berdampak pada harga solar dalam hitungan hari, tidak seperti Selat Hormuz yang arus alirannya berada di tingkat rendah namun relatif stabil selama berbulan-bulan," tambahnya.
Mungkin yang cukup mengejutkan, produksi minyak mentah, yakni bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat solar dan bensin— bukanlah kendala terbesar, tunjuk York. Inilah sebabnya mengapa harga minyak bergerak secara moderat sementara harga solar melonjak tinggi.