"Kemacetan (bottleneck) minyak telah bergeser dari 'kurangnya minyak mentah' pada bulan Maret/April menjadi 'kurangnya kapasitas kilang' sejak bulan Agustus," ujar sang pakar kepada DW.
Kini, gangguan pada kilang minyak menjadi faktor yang paling krusial, katanya, karena "kampanye serangan pesawat tanpa pandang bulu oleh Ukraina maupun konflik Hormuz sama-sama melumpuhkan kapasitas kilang yang beroperasi lebih cepat daripada kemampuan siapa pun untuk menggantinya."
Kendati demikian, Selat Hormuz tetap menjadi "risiko struktural yang lebih besar" bagi harga solar dalam jangka panjang.
Secara global, kapasitas kilang telah "anjlok secara substansial, dan solar sangat terdampak," tandas Zachmann.
Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah atau Rusia dapat menambah rentetan masalah bagi Eropa dan para pengguna solar lainnya. Pembatasan ekspor oleh AS dapat membuat situasi ini menjadi semakin buruk.
Ekspor solar AS ke Eropa naik sekitar 37% sejak tahun lalu dan kini menyumbang sekitar 8% dari permintaan Eropa, kata York. Hal ini menjadikan AS sebagai alternatif penting pengganti solar dari Rusia dan Teluk Persia.
Jika AS memblokir ekspor, itu akan menjadi guncangan besar dan memicu lonjakan harga solar yang lebih tinggi lagi, papar Zachmann. Pertanyaannya adalah apakah Uni Eropa akan melakukan tindakan balasan dengan mengekspor lebih sedikit bensin ke AS, yang justru "membuat kedua belah pihak merugi" dengan mendorong kenaikan harga bensin di AS sekaligus harga solar di Uni Eropa.
Selain itu, musim dingin sudah di depan mata bagi belahan Bumi Utara. Kilang-kilang minyak mungkin akan kesulitan memenuhi permintaan untuk minyak pemanas ruangan sekaligus solar, yang pada akhirnya semakin memperketat pasokan.
Gelombang penutupan kilang di Eropa dan AS sejak tahun 2019 telah membuat pasar solar menjadi rapuh, ujar York, dan hal ini telah mengikis penyangga (buffer) kapasitas kilang cadangan yang biasanya diandalkan untuk meredam guncangan.
"Pada intinya, pasar kini memiliki lebih sedikit 'stok barel cadangan' yang siap siaga," tegasnya. "Oleh karena itu, hilangnya satu barel saja berdampak pada pasokan secara jauh lebih langsung dibanding sebelumnya."
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris