Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengelolaan energi perlu berjalan seiring dengan perkembangan pelayanan. Pemantauan konsumsi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan sumber energi alternatif menjadi bagian dari upaya perusahaan menggunakan sumber daya secara lebih efisien.

β€œEfisiensi perlu diterjemahkan ke dalam keputusan operasional yang terukur. Kami melihat peluang pengelolaan energi dari fasilitas perusahaan, penggunaan teknologi, hingga cara pelanggan mengakses layanan. Setiap inisiatif memiliki manfaat yang berbeda, tetapi semuanya perlu diarahkan pada penggunaan sumber daya yang semakin bertanggung jawab,” ujar Anne.

Salah satu upaya tersebut adalah pengoperasian 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi, dengan total kapasitas terpasang 4.430,65 kilowatt peak (kWp), setara sekitar 4,43 megawatt peak (MWp). Fasilitas tersebut tersebar di stasiun, balai yasa, kantor, griya karya, depo, dan record center untuk mendukung kebutuhan listrik di lingkungan operasional KAI.

Efisiensi juga hadir melalui digitalisasi layanan. Selama Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate. Penggunaan teknologi ini diperkirakan mengurangi pemakaian 13.888 rol kertas boarding pass, dengan efisiensi biaya sekitar Rp203,80 juta. Pengurangan penggunaan kertas menjadi manfaat langsung digitalisasi, meskipun dampak penghematan energinya perlu dihitung secara terpisah.