Namun, perempuan masih menghadapi tantangan yang tidak proporsional akibat perubahan iklim, mulai dari kekeringan, banjir, gagal panen, hingga terbatasnya akses terhadap lahan, teknologi, informasi iklim, pembiayaan, dan sumber daya produktif.

Menurut dia, berbagai tantangan tersebut menunjukkan pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap kebijakan dan program aksi iklim.

Keterbatasan akses terhadap sumber daya produktif dapat mempengaruhi kemampuan perempuan perdesaan dalam mempertahankan mata pencaharian, mendukung ketahanan pangan keluarga, dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Oleh karena itu, kebutuhan, pengalaman, serta kerentanan perempuan perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan agar manfaat program dapat dirasakan secara adil dan inklusif.