Ia menjelaskan Soekarno memandang wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang hingga Merauke bukan sekadar batas administratif negara, melainkan satu kesatuan cita-cita untuk membangun kekuatan nasional.

Visi tersebut, menurut Hasto, menempatkan Indonesia sebagai kekuatan maritim di Samudra Hindia yang mampu memandang masa depan peradaban di kawasan Pasifik.

"Mengapa Bung Karno menyebut dari Sabang sampai Merauke bukan hanya satu national state, tetapi juga satu kesatuan cita-cita? Yakni visi menjadi negara terbesar di Samudra Hindia yang menatap masa depan di Pasifik, serta mengapa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting agar kita bisa menjadi bangsa pemimpin? Itulah pentingnya literasi geopolitik ini," tuturnya.

Hasto mencontohkan keberhasilan diplomasi pada masa pemerintahan Soekarno yang memanfaatkan berbagai instrumen kekuatan nasional untuk mendorong pengakhiran kolonialisme di dunia.

Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok (GNB), Conference of the New Emerging Forces (Conefo), dan Ganefo.