NADIKABAR.COM — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Dairi mendorong pengembangan kubis untuk menembus pasar ekspor. Langkah itu dilakukan melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).

Upaya ini dilakukan dengan memperkuat budidaya berstandar ekspor, meningkatkan kualitas pascapanen, dan membangun rantai pasok berkelanjutan guna meningkatkan daya saing serta pendapatan petani kubis di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra hortikultura nasional. Kondisi tanah vulkanik yang subur, dengan ketinggian wilayah antara 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut mendukung pengembangan kubis dataran tinggi yang memiliki karakteristik renyah dan padat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025, luas panen kubis tercatat lebih dari 549 hektare. Produktivitas lahan berada pada kisaran 6 hingga 7,3 ton per hektare. Dengan potensi tersebut, produksi kubis Kabupaten Dairi saat ini diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Melalui modernisasi pertanian dan penguatan rantai pasok, pemerintah daerah memproyeksikan alokasi produksi untuk pasar ekspor sebesar 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal pengembangan. Hal ini akan didukung penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas penanganan pascapanen.

Pengembangan pasar ekspor membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani kubis di Dairi. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan, harga kubis di pasar domestik berada pada kisaran Rp2.500 hingga Rp 4.000 per kilogram, dengan keuntungan bersih sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.

Sementara itu, harga kubis untuk pasar ekspor diproyeksikan mencapai Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Setelah memperhitungkan penyesuaian biaya produksi, termasuk penyortiran dan pengemasan yang diperkirakan mencapai Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram, keuntungan bersih petani diproyeksikan berada pada kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram.

Dengan demikian, pengembangan pasar ekspor berpotensi meningkatkan keuntungan petani sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penjualan di pasar domestik. Besaran keuntungan tersebut tetap bergantung pada harga aktual, biaya produksi, standar mutu, dan efisiensi rantai pasok.

Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu varietas yang dikembangkan petani karena memiliki karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan pasar dataran tinggi, antara lain bobot ideal, knop padat, dan daya simpan yang mendukung proses distribusi.

Kubis Dairi Bidik Pasar Asia Tenggara dan Asia Timur

Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan untuk menyasar pasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target pasar potensial dengan kebutuhan pasokan yang diharapkan berlangsung secara rutin.

Selain itu, Taiwan menjadi salah satu pasar yang dituju karena memiliki persyaratan mutu dan kesegaran produk yang perlu dipenuhi melalui penguatan sistem produksi dan penanganan pascapanen.