NADIKABAR.COM — Jakarta (NadiKabar) – Hilirisasi nikel Indonesia memasuki tahap baru dengan mengarahkan investasi menuju produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan industri yang melampaui pembangunan smelter dan produksi bahan setengah jadi.

Sasaran berikutnya mencakup bahan baku baterai, sel baterai, hingga baja nirkarat jadi. Melalui pendalaman industri tersebut, pemerintah ingin memperbesar manfaat pengolahan nikel bagi tenaga kerja dan kemampuan teknologi nasional.

“Hilirisasi kita tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Kita harus bergerak sampai menghasilkan produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik, agar nilai tambah, lapangan pekerjaan, dan penguasaan teknologi benar-benar berada di Indonesia,” kata Bahlil dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, perubahan arah ini berangkat dari tantangan struktur industri pengolahan. Dalam naskah kebijakan yang disampaikan, sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel disebut masih menghasilkan produk antara.

Artinya, pengembangan fasilitas pengolahan masih menyisakan pekerjaan untuk menyambungkan hasil smelter dengan industri pembuat produk akhir. Indonesia perlu memperpanjang rantai produksi agar manfaat ekonomi pengolahan mineral semakin besar dinikmati di dalam negeri.

Pemerintah juga mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya memproduksi bahan setengah jadi. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengarahkan investasi ke tahapan pengolahan yang lebih tinggi.

Sejauh ini, hilirisasi telah mengangkat nilai perdagangan nikel. Berdasarkan data dalam naskah, ekspor nikel beserta produk turunannya meningkat dari USD3,3 miliar pada 2017 menjadi USD33,9 miliar pada 2024.

Namun, kenaikan ekspor perlu diikuti penguatan kemampuan menghasilkan produk akhir. Tantangannya mencakup kesiapan teknologi, pasokan energi, cadangan mineral, serta pasar yang akan menyerap hasil industri.

Pertimbangan itu juga menjadi dasar pengembangan hilirisasi bauksit, tembaga, dan logam tanah jarang. Bersamaan dengan perluasan industri, pemerintah menghadapi tuntutan menjaga lingkungan dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tambang.

“Kekayaan alam Indonesia harus kita kelola untuk kemakmuran rakyat, bukan hanya untuk kepentingan hari ini. Kita harus memastikan generasi berikutnya mewarisi industri yang kuat, lingkungan yang terjaga, dan ekonomi yang lebih mandiri,” pungkasnya.

Tahap berikutnya akan menguji kemampuan Indonesia menghubungkan sumber daya tambang dengan industri produk akhir yang mampu bersaing di pasar global.