Menurutnya, belanja infrastruktur memiliki efek berganda yang besar terhadap ekonomi karena menggerakkan industri semen, baja, alat berat, transportasi, jasa engineering, konstruksi, hingga tenaga kerja di daerah.

Karena itu, semakin luas keterlibatan pengusaha nasional dan daerah, semakin besar pula manfaat ekonomi dari setiap proyek infrastruktur.

HIPMI mendorong agar keberhasilan penyehatan BUMN Karya nantinya tidak hanya diukur dari berkurangnya utang atau membaiknya laporan keuangan perusahaan.

β€œUkuran keberhasilannya harus lebih luas: apakah perusahaan menjadi sehat, apakah proyek berjalan tepat waktu, apakah vendor dibayar dengan baik, apakah keterlibatan pengusaha nasional meningkat, dan apakah semakin banyak lapangan kerja yang tercipta,” kata Anthony.

Ia menambahkan, proses konsolidasi juga harus diikuti dengan penguatan tata kelola, disiplin dalam pemilihan proyek, serta penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri konstruksi.

Menurutnya BUMN Karya yang sehat akan memberikan kepercayaan lebih besar kepada perbankan, investor, mitra usaha, dan pasar.

"Kalau restrukturisasi ini dilakukan dengan baik, kita bukan hanya menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi membangun fondasi baru industri konstruksi Indonesia yang lebih kompetitif,” kata Anthony.