"Suasananya hampir senyap total, kecuali suara desingan itu," kenang Ferguson.
Kapten Moody lalu melakukan panggilan MayDay ke Air Traffic Center (ATC) Jakarta untuk melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma.
Berhubung mesin masih mati, Moody sempat memilih untuk mendarat di lautan alias ditching bila tidak cukup waktu menuju runway bandara di Jakarta. Penumpang sudah mengenakan masker oksigen dan pelampung.
13 Menit yang penuh ketegangan. Moody tetap tenang dan berhasil menghidupkan kembali mesin yang hampir mati dan mendarat dengan selamat setelah bermanuver mengelilingi gunung berapi.
Namun saat pendaratan, kaca kokpit sudah buram total karena tabrakan dengan material yang mereka kira masuk dalam awan petir. Moody dibantu dengan dua kopilot akhirnya berhasil mendaratkan pesawat jumbo itu dengan manual dipandu oleh lampu runway Halim yang lamat-lamat terlihat.
Keesokan harinya, Moody dan dua kopilotnya kembali ke bandara untuk mengecek pesawatnya. Tampak pesawat itu seperti disemprot pasir parah, catnya terkelupas. Mereka pun membongkar mesin jet keluaran Rolls Royce.
Investigasi dipimpin mantan insinyur Rolls Royce Malcolm Grayburn. Grayburn mengatakan mesin akhirnya dibongkar di Jakarta dan diterbangkan dengan pesawat cargo ke Inggris untuk dibongkar dan diteliti.
Grayburn terperangah dengan apa yang dilihatnya. Sebagian besar mesin mengalami goresan parah.