Perang saudara di Yaman bermula setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014, disusul dengan intervensi koalisi pimpinan Saudi pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah yang sah.
Meskipun konflik ini telah berlangsung jauh sebelum konflik Timur Tengah yang lebih luas, pertempuran yang kembali memanas di Yaman ini telah memperhadapkan sekutu Washington dan Teheran satu sama lain, di tengah kebuntuan hubungan antara kedua musuh bebuyutan tersebut di kawasan Teluk.
Thawr membantah menerima arahan dari Iran, namun menegaskan bahwa mereka merupakan "satu aliansi dan satu tubuh".
"Iran adalah negara sahabat, sekutu, dan saudara bagi kami, namun mereka tidak mendikte kami. Kami mandiri dalam pengambilan keputusan maupun kedaulatan kami," ujarnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9), menyatakan bahwa jumlah pengungsi di Yaman dapat melonjak dari angka saat ini yang melebihi 130.000 jiwa menjadi lebih dari 230.000 jiwa dalam beberapa bulan mendatang.