Namun, apa pun angka yang digunakan, Indonesia jelas memiliki salah satu fondasi sumber daya manusia militer terbesar di kawasan.
Di udara, perubahan wajah TNI mulai terlihat lebih jelas.
Indonesia kini telah menerima enam Dassault Rafale. Pesawat tempur buatan Prancis itu menjadi salah satu simbol paling kuat dari modernisasi TNI AU. Rafale bukan sekadar pesawat yang lebih baru, tetapi membawa kemampuan multirole yang memungkinkan satu platform digunakan untuk berbagai jenis misi sesuai konfigurasi dan dukungan sistemnya.
Kehadiran Rafale juga tidak berdiri sendirian. Pada 2026, Indonesia menerima empat Falcon 8X, satu Airbus A400M, radar GM403, rudal Meteor dan senjata AASM HAMMER dalam rangkaian penerimaan alutsista. Dengan demikian, yang sedang dibangun sebenarnya bukan hanya armada pesawat baru, tetapi ekosistem kekuatan udara yang terdiri dari pesawat tempur, pesawat angkut, sensor dan persenjataan.
A400M bahkan memberikan kemampuan yang berbeda sama sekali. Pesawat angkut strategis ini memungkinkan Indonesia memindahkan personel dan logistik dalam jumlah besar ke berbagai wilayah kepulauan yang jaraknya ribuan kilometer. Dalam negara sebesar Indonesia, kemampuan seperti ini bukan sekadar persoalan militer. Ia juga dapat menjadi kemampuan nasional ketika terjadi bencana besar di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
Di samping Rafale, Indonesia tetap mengoperasikan F-16, Sukhoi Su-27/30, Hawk dan Super Tucano. Ini membuat kekuatan udara Indonesia menjadi armada yang sangat beragam. Keuntungannya adalah Indonesia tidak bergantung pada satu jenis platform. Namun, kerugiannya juga jelas: semakin banyak jenis pesawat dari negara dan generasi berbeda, semakin rumit pula urusan pemeliharaan, suku cadang, pelatihan dan integrasi sistem.