Selama perjalanan jauh tersebut, asap juga mengalami pengenceran, pencampuran, transformasi kimia, serta pengendapan, sehingga dampaknya di Jakarta bergantung pada besarnya emisi, kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer.
Ketika ditanya mengenai perbedaan sumber polutan, ia menjelaskan bahwa partikel PM2.5 dari karhutla dan emisi kendaraan sebenarnya dapat dibedakan melalui analisis ilmiah, namun alat pemantau PM2.5 konvensional tidak dapat langsung memastikan sumber polusi secara instan apabila telah bercampur dengan emisi lokal.
"Saya tidak pernah menyatakan asap karhutla sudah sampai Jakarta, saya malah minta cek ini. Jika benar alat kualitas udara di Jakarta mendeteksi PM2.5 dari asap karhutla, maka tulisan saya (di atas) bisa menjadi dasar sains mengapa asap karhutla bisa sampai Jakarta. Saya sendiri belum tahu apakah asap itu sudah sampai Jakarta apa belum," kata Daryono.
Adapun diketahui kondisi udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir dirasakan diselimuti kabut tipis, khususnya pada malam hari di atas pukul 20.00 WIB, yang mulai dirasakan warga menyerupai bau dan tekstur kabut asap.