Hadapi Era Artificial Intelligence, Iman dan Akhlak Harus Menjadi Kompas
Memasuki era perkembangan teknologi yang semakin cepat, Ibas mengingatkan bahwa generasi muda harus mampu beradaptasi dengan kemajuan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Menurutnya, teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkarya, dan berinteraksi. Perkembangan informasi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam membedakan fakta dan berita bohong, informasi yang benar dan keliru.
Karena itu, Ibas mengajak para santriwati tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
"Kita hidup di dunia yang berubah sangat cepat. Teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang dan memengaruhi kehidupan kita. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau kita mampu menjadi pencipta gagasan dan menghadirkan solusi?" kata Ibas.
Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman dan akhlak.
"Zaman boleh terus berubah, teknologi boleh semakin maju, tetapi iman dan akhlak harus tetap menjadi kompas kehidupan kita. Jangan sampai kecerdasan membuat kita kehilangan kerendahan hati, kejujuran, dan amanah," pesannya.
Ibas menilai pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan masa depan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, terbatasnya lapangan pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menguasai bahasa, memahami teknologi, menghargai perbedaan, serta terus mengembangkan keterampilan dan kreativitas.
Ilmu, Akhlak, dan Karya Nyata Menjadi Tiga Kunci Generasi Unggul
Ibas menekankan setidaknya tiga hal penting yang harus dipersiapkan para santriwati untuk menghadapi masa depan, yakni ilmu, akhlak, dan karya nyata.
Pertama adalah ilmu. Ibas mendorong para santriwati untuk terus belajar dan tidak cepat berpuas diri. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai, kelulusan, maupun ijazah, tetapi harus mampu membangun pola pikir kritis dan kemampuan menyelesaikan persoalan.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, serta kemampuan memahami perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya yang kedua yaitu akhlak. Menurut Ibas, kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan karakter dan perilaku yang baik. Kejujuran, kedisiplinan, amanah, kerendahan hati, penghormatan kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang harus terus dijaga.
Hal penting yang terakhir adalah karya nyata. Ibas mengajak para santriwati untuk tidak sekedar memiliki gagasan dan cita-cita, tetapi mulai mewujudkannya melalui tindakan konkret, bahkan dari lingkungan terdekat.