Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K) menambahkan bahwa dampak karhutla terhadap kesehatan pernapasan anak tidak dapat dianggap remeh.
PM2.5 dari asap kebakaran hutan, kata Wahyuni, dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi.
โDampak terbesar terutama pada anak usia di bawah 5 tahun. Meta-analisis mencatat setiap kenaikan 10 ยตg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma," tutur dia.Wahyuni menegaskan bahwa asap karhutla tidak hanya memicu infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), tetapi juga dapat menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya.
"Anak dengan penyakit jantung bawaan, atau dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan akibat paparan asap. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," kata Wahyuni.
UKK Respirologi IDAI merekomendasikan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi anak dari dampak asap karhutla, seperti memantau kualitas udara lokal (Air Quality Index/AQI atau Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak berada, karena asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer dari sumbernya.