Ia juga menilai satu kasus keracunan sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan evaluasi, sebab dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga keluarga.

"Bagi kami, satu saja anak yang sakit, satu saja anak keracunan, itu tidak bisa ditoleransi, karena bagi orang lain mungkin satu anak itu hanya sekedar angka, bahkan ada yang bilang 0,00 sekian persen katanya, dari sekian juta anak. Tapi bagi keluarganya, tidak ada anak itu berupa angka ya, anak keracunan itu bagi keluarganya adalah segala-galanya," ujarnya.

IDAI sebelumnya mengusulkan agar penyediaan MBG dilakukan melalui kantin sekolah sehingga makanan dapat tetap hangat saat diberikan kepada anak. Piprim mengatakan konsep tersebut juga memungkinkan makanan disajikan sesuai dengan pilihan anak serta memprioritaskan anak-anak di wilayah 3T.

dr Piprim menegaskan standar keamanan pangan dalam MBG harus diterapkan secara ketat dan tidak boleh ditawar. Ia juga meminta edukasi mengenai keamanan pangan dan pertolongan pertama pada kasus keracunan diberikan kepada guru maupun anak-anak sebagai langkah mitigasi.