Dari kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25 persen, atau mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps.

Liza mengatakan keputusan tersebut mendapatkan dissent dari dua pejabat BoJ, mencerminkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral mengenai arah kebijakan moneter.

"Perhatian selanjutnya tertuju pada respons ekonomi dan pasar keuangan Jepang terhadap normalisasi kebijakan tersebut," ujar Liza.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026, dengan konsensus memproyeksikan BI akan menaikkan Rate di level 5,75 persen, terutama untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan harga energi yang tinggi.

"Respons BI terhadap kombinasi pelemahan Rupiah, inflasi, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan akan menjadi perhatian penting pasar," ujar Liza.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati data uang beredar (M2) Agustus 2026, yang diperkirakan mencerminkan perkembangan likuiditas dan kredit domestik akan menjadi indikator tambahan.