Adapun harga minyak Brent pada Kamis (1/10) ditutup menguat 4,4 persen pada level 102 dolar AS per barel, karena kekhawatiran meningkatnya eskalasi serangan AS ke Iran setelah pemilu sela di AS pada November. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin (bps) ke level 5.243 persen pada Kamis (1/10).

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia tercatat 3,28 persen (year on year/yoy) pada September 2026, meningkat dari 3,19 persen (yoy) pada Agustus, dengan inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi inti 2,84 persen (yoy).

Meskipun inflasi headline meningkat, inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat, sehingga diperkirakan inflasi ini belum memberikan tekanan besar bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengetatkan kebijakan moneter.

Namun, kenaikan harga pangan dinilai perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Sebab, dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026, meningkat signifikan dari 120 juta dolar AS pada Juli.