Surplus ini ditopang ekspor yang mencapai 26,61 miliar dolar AS atau tumbuh 6,72 persen (yoy), sedangkan impor mencapai 23,06 miliar dolar AS atau tumbuh 19,09 persen (yoy).
Pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor dinilai perlu dicermati karena dapat mempersempit surplus ke depan, terutama jika permintaan global dan harga komoditas melemah.
Bursa saham Asia pada Jumat pagi ini bergerak variatif, dengan indeks Nikkei melemah 0,62 persen ke level 68.532,50, indeks KOSPI turun 0,47 persen ke 6.938,27, indeks Shanghai menguat 0,23 persen ke 3.839,25, indeks Hang Seng terkoreksi 2,37 persen ke 24.031,00, sementara indeks Straits Times naik tipis 0,05 persen ke 5.670,70.
Sementara itu pada penutupan Kamis (1/10), bursa Eropa kompak melemah di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,48 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,68 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,03 persen, dan indeks CAC 40 Prancis melemah 1,62 persen.
Di sisi lain, bursa Wall Street AS menguat pada penutupan Kamis (1/10), antara lain indeks S&P 500 menguat 0,19 persen ke level 7,666,45, indeks Nasdaq Composite menguat 0,04 persen ke 26.871,60, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,04 persen ke 50.926,56.