Menurut dia, rupiah yang masih berada di bawah tekanan dipengaruhi oleh ketidakpastian global, menjelang FOMC meeting pekan ini, harga minyak yang masih di level tinggi, serta kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing.

“Jika rupiah masih cenderung melemah, BI berpotensi akan menaikkan BI Rate pada RDG November mendatang,” ujar Ratna.

Bursa Eropa kompak menguat pada Senin (26/10) kemarin, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,74 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,72 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,91 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,83 persen.

Bursa Wall Street AS juga kompak menguat pada Senin (26/10), di antaranya indeks S&P 500 menguat 0,70 persen, indeks Nasdaq Composite menguat 0,82 persen, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,28 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei menguat 1,80 persen ke 62.306,00, indeks Shanghai melemah 0,19 persen ke 3.690,96, indeks Hang Seng melemah 0,11 persen ke 23.191,95, indeks Kospi menguat 3,65 persen ke 5.669,17, dan indeks Straits Times melemah 0,31 persen ke 5.399,95.