β€œNamun demikian, pasar juga berhati-hati seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang masih tinggi,” ujar Nico.

Dari dalam negeri, Nico mengatakan IHSG sedikit terbebani oleh sentimen tekanan melemahnya Rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, serta masih tingginya harga minyak dunia meskipun mulai mengalami penurunan.

Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun menurun menjadi sekitar 5,25 persen dan imbal hasil 30 tahun menurun ke arah 5,6 persen, namun demikian angka tersebut masih di level tinggi.

Begitu juga dengan harga minyak dunia yang masih tetap tinggi, sehingga kekhawatiran inflasi tetap menjadi fokus di tengah ketegangan Timur Tengah yang berkelanjutan.

"Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.