Kemudian, ketegangan meningkat setelah AS dilaporkan melancarkan serangan defensif terhadap sistem rudal permukaan ke udara Iran yang digunakan untuk menyerang aset AS.
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam kemungkinan aksi militer. Namun, Trump juga menyatakan akan mengakhiri program bantuan senilai 4 miliar dolar AS kepada Israel pada akhir tahun.
Di sisi lain, Ratna menyebut terdapat harapan dari pelaku pasar bahwa AS dan Iran akan mencapai penyelesaian diplomatik, meskipun sebelumnya dilaporkan AS telah menyerang Pulau Qeshm di Iran pada Selasa (3/11/2026).
Seiring harapan tersebut, harga minyak mentah global melemah dengan jenis WTI bergerak di kisaran 96 dolar AS per barel, sementara jenis Brent di level 103 dolar AS per barel pada Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, US 10-year Bond yield naik lebih dari 6 basis poin ke level 4,96 persen, sementara harga emas spot melemah 0,5 persen di level 3,92 dolar AS per troy onz pada Selasa (3/11/2026).
"Penguatan dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS memberikan tekanan pada emas, sementara para investor menantikan hasil pemilu midterm AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan fiskal," ujar Ratna.
Dari dalam negeri, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,4 hingga 5.5 persen sepanjang 2026, atau lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya di level 5,6 hingga 6.0 persen.
Menurut Ratna, penurunan proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap prospek ekonomi domestik.