Selain itu, investor akan mencermati data ketenagakerjaan AS, dengan jadwal publikasi survei Job Openings and Labor Turnover (JOLTS) bulan Agustus 2026 pada Selasa (29/9), serta laporan NonFarm Payrolls (NFP) bulan September 2026 pada Jumat (02/10).
Sementara itu, harga minyak mentah menurun dari level tertinggi harian pada Senin (28/9), setelah adanya laporan bahwa Arab Saudi meningkatkan operasional jalur pipa vital Timur-Barat setelah perbaikan, dengan harga minyak Brent ditutup di level 108 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, meningkatnya kembali harga minyak di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah telah meningkatkan risiko terhadap naiknya kembali laju inflasi. Apabila inflasi meningkat di atas target Bank Indonesia (BI), dikhawatirkan akan membuat BI harus menaikkan suku bunga acuannya.
Berdasarkan penilaian BI, setiap kenaikan BI Rate sebesar 25 bps diperkirakan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen, yang membuat BI saat ini masih mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen.
BI juga memilih menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendorong aliran modal masuk.
Selain itu,meningkatnya indeks dolar AS akibat tingginya harga minyak yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut dan kenaikan yield US-Treasury, menimbulkan potensi terjadinya capital outflow dari negara berkembang sehingga mendorong pelemahan Rupiah.