Sementara dari mancanegara, Nafan mengatakan level yield US Treasury yang relatif tinggi, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik masih membatasi appetite investor terhadap aset berisiko di emerging market.

β€œSikap investor saat ini menurut saya cenderung lebih defensif dan selektif,” ujar Nafan.

Ia menjelaskan, investor masih melakukan rebalancing portofolio dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap arus modal asing, sembari mencari saham atau sektor yang memiliki fundamental kuat dan katalis spesifik.

β€œHal ini tercermin dari masih berlanjutnya net foreign sell dan tekanan pada sejumlah saham big caps,” ujar Nafan,

Dengan kondisi tersebut, menurutnya, investor kemungkinan akan lebih memperhatikan perkembangan Rupiah, yield obligasi, arus dana asing, serta data ekonomi domestik sebelum meningkatkan kembali eksposur secara agresif.

Secara teknikal, Ia memproyeksikan area 6.019 menjadi support penting bagi IHSG, dengan support berikutnya di sekitar 5.854, sementara area 6.185-6.240 menjadi resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi technical rebound.

β€œSelama IHSG masih mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang technical rebound tetap terbuka, terutama apabila tekanan jual asing mulai mereda dan kondisi rupiah maupun global market membaik. Namun, apabila support 6.019 ditembus secara signifikan, risiko berlanjutnya koreksi perlu diantisipasi,” ujar Nafan.