Setelah menghasilkan sejumlah gagasan, peserta kemudian memilih satu ide yang dinilai paling kuat untuk dikembangkan.

Hasil praktik tersebut melahirkan Dra. Siti Aminah, dari Muslimat NU Bangkalan sebagai peserta dengan ide terbaik (best idea) pada sesi Bustomi.

Bagi peserta, proses tersebut menjadi latihan untuk tidak sekadar memiliki pendapat, tetapi mampu mengidentifikasi persoalan dan menentukan bagian mana yang paling penting untuk disampaikan kepada pembaca.

Bustomi juga memperkenalkan alur kerja mulai dari ide lalu angle, memperkuat tulisan dengan bukti dan terakhir menjadi naskah utuh yang "bercerita". Ide, lanjut pria dari Desa Mandung Kokop itu, harus dipertajam menjadi sudut pandang tertentu, kemudian diperkuat dengan bukti sebelum disusun menjadi cerita yang mudah diikuti pembaca.

Tahapan berikutnya dipandu Mohammad Tojjib. Peserta diajak mengubah gagasan menjadi rancangan artikel melalui praktik membuat judul, lead atau pembuka tulisan, dan outline atau kerangka tulisan.

Materi Tojjib menempatkan proses menulis dalam tiga tahap utama, yakni perencanaan, penulisan draf, dan penyuntingan. Struktur artikel mencakup judul, alinea pembuka, batang tubuh, dan alinea penutup.

Dari praktik tersebut, Habiburokhman dari FEB Unair terpilih sebagai peserta dengan judul dan headline terbaik (best title and healine article). Sementara Kolonel CPM Moh. Sawi meraih kategori outline terbaik.