"Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan," katanya.

Damayanti mencontohkan sejumlah kesalahan dalam pengolahan makanan yang dapat meningkatkan risiko keracunan. Di antaranya mencampurkan bahan makanan mentah dengan makanan yang telah matang, menyimpan makanan pada temperatur yang tidak sesuai, serta menggunakan bahan makanan yang proses pencuciannya kurang bersih.

Dia juga mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 yang menyebut satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak boleh dianggap sepele karena dalam kasus tertentu keracunan makanan dapat berujung pada kematian.

"Nah, siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, nanti kalau MBG-nya sudah masuk ke 3B (Bayi, Balita, Bumil/Ibu Hamil), ini lebih lagi, risikonya lebih besar. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah," katanya.