NADIKABAR.COM β Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) Jawa Timur menilai film Laut Bercerita relevan untuk mengedukasi generasi muda tentang sejarah penculikan aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjelang Reformasi 1998.
βFilm ini menjadi media penting untuk mentransformasikan pengetahuan, terutama sejarah pelanggaran HAM masa lalu kepada anak-anak sekarang,β kata Ketua IKOHI Jawa Timur Dandik Katjasungkana di Surabaya, Minggu.
Dandik mengatakan film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami peristiwa penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada 1998. Meski bergenre fiksi, cerita dalam film itu berangkat dari fakta sejarah.
Menurut dia, antusiasme generasi muda terhadap novel Laut Bercerita menjadi perkembangan yang menggembirakan.
Kehadiran versi film layar lebar diharapkan dapat memperluas jangkauan cerita sekaligus menjangkau lebih banyak penonton, khususnya mereka yang tidak mengalami langsung peristiwa Reformasi 1998.
IKOHI, lanjut Dandik, telah mendampingi Leila dalam proses riset novel tersebut dengan melibatkan sejumlah korban penculikan aktivis, terutama di Jakarta dan Yogyakarta. Organisasi itu juga turut mendukung peluncuran novel pada 2017, yang saat itu disertai pemutaran film pendek berdurasi sekitar 25 menit.
Dandik menambahkan, film tersebut dapat mendorong anak muda untuk mencari sumber informasi yang kredibel guna memahami sejarah pelanggaran HAM di Indonesia.
Pemahaman itu penting agar masyarakat tidak melupakan peristiwa masa lalu dan mampu mencegah pelanggaran serupa terulang.
Ia menilai relevansi film tersebut semakin kuat di tengah situasi politik saat ini. Menurut dia, berbagai kasus represi terhadap aktivis, penangkapan mahasiswa saat demonstrasi, serta persoalan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan menunjukkan pentingnya pembelajaran sejarah.
βSituasi pelanggaran HAM yang berulang-ulang itu terjadi karena tidak adanya pertanggungjawaban hukum maupun politik dari para pelakunya. Tidak ada preseden hukum untuk mengadili para pelanggar HAM berat,β ujarnya.
Ia berharap generasi muda tidak berhenti pada cerita yang disajikan dalam film, tetapi melanjutkan dengan mempelajari berbagai sumber sejarah dan memahami proses hukum atas kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Menurut Dandik, penyelesaian yang adil bagi korban menjadi bagian penting untuk mencegah keberulangan pelanggaran HAM. Dengan memahami sejarah, generasi muda diharapkan dapat mengambil peran dalam memperjuangkan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Sementara itu, sutradara Laut Bercerita Yosep Anggi Noen mengatakan film tersebut mengangkat masa lalu yang hingga kini masih menyisakan persoalan, termasuk kasus orang hilang dan pelanggaran HAM.
βDalam karya kami, yang kami pilih adalah berbicara tentang masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya masih belum memiliki kejelasan hingga sekarang, seperti kasus orang hilang, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya,β kata Yosep.
Ia menjelaskan, film tersebut diharapkan menjadi jendela bagi masyarakat untuk melihat kembali sejarah yang belum terselesaikan.
Menurut dia, pemahaman yang lebih jelas terhadap sejarah menjadi salah satu landasan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Film Laut Bercerita tayang perdana di Busan, Korea Selatan, pada 11 Oktober 2026 dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.