Perkiraan ini muncul setelah musim panas yang tercatat, memiliki suhu tertinggi sepanjang sejarah di Eropa Barat. Contohnya di Inggris, yang mengalami musim panas terpanas sejak pencatatan yang dimulai pada 1884.

"Angka-angka ini membawa dampak nyata bagi manusia," ujar peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London, Dr Clair Barnes.

Ia menyampaikan, gelombang panas di Inggris dan Eropa tersebut mengganggu kegiatan sekolah, membebani layanan rumah sakit, memengaruhi produksi pangan, memicu kebakaran dan kekeringan, serta merenggut puluhan ribu nyawa.

Namun, ia juga menepis anggapan bahwa musim panas semacam itu kini sekadar menjadi normalitas baru.

"Selama kita belum menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, rekor-rekor suhu ini akan terus terpecahkan, dan kondisi ekstrem akan memburuk lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi. Yang terpenting, seberapa parah kondisi ini nantinya bergantung pada tindakan kita sendiri," tegasnya.