"Permafrost turut menahan kestabilan lereng gunung, (tetapi) permafrost ini kini menghangat, mencair, dan mengalami degradasi, sehingga kemungkinan terjadinya tanah longsor akan meningkat," ungkapnya.

Pakar lain bahkan berpendapat runtuhnya gletser tersebut bisa saja terjadi bahkan beberapa jam atau beberapa hari sebelum banjir terjadi.

"Menurut saya, besarnya gelombang material (puing-puing reruntuhan) yang terbawa menunjukkan bahwa awalnya terjadi tanah longsor, kemudian air tertampung dan membendung sungai, hingga akhirnya bendungan itu jebol dan memicu banjir besar yang dahsyat," terang profesor ilmu kebumian di Universitas Oxford, Mike Searle.

Salah satu kemungkinannya adalah air dari curah hujan atau es yang mencair telah menyebabkan ketidakstabilan pada tanah atau lapisan es, sehingga memicu reaksi berantai.

Para ilmuwan akan meneliti citra satelit untuk mengetahui lokasi persis terjadinya tanah longsor, apakah ada danau glasial yang tiba-tiba mengosongkan airnya, di mana aliran sungai mungkin sempat tersumbat, serta menganalisis data curah hujan terkini.